Materi Selanjutnya Rengkang Sabawebawepajad
©Rengkang Sabawebawepajad
Rengkang Sabawebawepajad (RRS) Official Group
Jalan simpang swadaya Dusun 2 RT/RW 005/003 Desa Siraman Kecamatan Pekalongan Lamtim Kode 34391 www.rengkangsabawebawepajad.blogspot.com
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
Materi Selanjutnya Rengkang Sabawebawepajad
*Tanda Hubung (-)*
*1. Tanda hubung dipakai untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh pergantian baris.*
Misalnya:
√ Di samping cara lama, diterapkan juga ca-ra baru ….
√ Nelayan pesisir itu berhasil membudi-
dayakan rumput laut.
√ Kini ada cara yang baru untuk mengu-
kur panas.
*2. Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.*
Misalnya:
Anak-anak
Berulang-ulang
Kemerah-merahan
Mengorek-ngorek
3. Tanda hubung dipakai untuk menyambung tanggal, bulan,
dan tahun yang dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
Misalnya:
11-11-2013
P-a-n-i-t-i-a
4. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan
bagian kata atau ungkapan.
Misalnya:
Ber-evolusi
Meng-ukur
Dua-puluh-lima ribuan (25 x 1.000)
²³∕₂₅ (dua-puluh-tiga perdua-puluh-lima)
Mesin hitung-tangan
Bandingkan dengan
Be-revolusi
Me-ngukur
Dua-puluh lima-ribuan (20 x 5.000)
20 ³∕₂₅ (dua-puluh tiga perdua-puluh-lima)
mesin-hitung tangan
*5. Tanda hubung dipakai untuk merangkai :*
a. Se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf
kapital (se-Indonesia, se-Jawa Barat);
b. Ke- dengan angka (peringkat ke-2);
c. Angka dengan –an (tahun 1950-an);
d. Kata atau imbuhan dengan singkatan yang berupa huruf
kapital (hari-H, sinar-X, ber-KTP, di-SK-kan);
e. Kata dengan kata ganti Tuhan (ciptaan-Nya, atas rah-
mat-Mu);
f. Huruf dan angka (D-3, S-1, S-2); dan
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
g. Kata ganti -ku, -mu, dan -nya dengan singkatan yang beru-
pa huruf kapital (KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku).
#Catatan:
Tanda hubung tidak dipakai di antara huruf dan angka jika angka tersebut melambangkan jumlah huruf.
Misalnya:
~ BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia)
~ LP3I (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi
Indonesia)
~ P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan)
*6. Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.*
Misalnya:
Di- _sowan_ -i (bahasa Jawa, ‘didatangi’)
Ber-,_pariban_ (bahasa Batak, ‘bersaudara sepupu’)
Di- _back up_
Me- _recall_
Pen- _tackle_ -an
*7. Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek bahasan.*
Misalnya:
Kata _pasca-_ berasal dari bahasa Sanskerta.
Akhiran _-isasi_ pada kata betonisasi Sebaiknya diubah menjadi pembetonan.
*# En / Em dash (-,—)* atau *Tanda Pisah*
*1. Tanda Pisah dipakai dalam mengapit kata atau kalimat penjelas.*
Kata atau kalimat yang berada di dalam tanda pisah adalah penjelasan dari kata atau kalimat sebelumnya.
Contoh:
• Riko mengamati dengan teliti kertas—laporan mengenai keuangan perusahan—yang kini berada di tangannya.
• Pada tanggal 25 November, para guru—pahlawan tanda jasa—memperingati hari guru nasional.
*2. Tanda Pisah dipakai dalam pembatasan penyisipan kata atau kalimat*
Kata atau kaliamat yang berada di dalam tanda pisah adalah memberikan penjelasan maksud yang lebih spesifik dan bersifat membatasi kalimat induk.
Contoh :
• Pancasila—yang diyakini sebagai dasar negara—harus dilaksanakana sesuai dengan ayat-ayat yang terdapat di dalamnya.
• Hakim memberikan keputusan—setelah kebenaran ditemukan—dalam pengadilan itu.
*3. Tanda Pisah dipakai di antara dua angka, waktu atau tempat yang berarti ‘sampai dengan/sampai ke’.*
Contoh :
Medan-Surabaya
1998-1999
13-16 Oktober 1999
*4. Tanda Pisah tidak bisa dipakai bersamaan dengan kata ‘dari dan antara’.*
Contoh :
• Dari kota Medan-Surabaya (salah)
Dari kota Medan sampai ke Surabaya (benar)
• Antara tahun 1998-1999 (Salah)
Antara tahun 1998 dan 1999 (benar)
*# Tanda Elipsis (...)*
Tanda Elipsis dipakai dalam kalimat atau dialog yang terputus-putus—seperti hubungan kita๐—dan untuk memberikan petunjuk bahwa dalam kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Contoh:
• “Tapi... ya sudahlah, tidak apa-apa,” kata Rina lirih.
• Rina menatap Ayu. “Jadi... kita akan kembali ke pasar itu lagi.”
• ...malam yang mencekam. Penjaga kubur itu mulai merasa kedinginan.
*# Tanda Apostrof (‘)*
Tanda Apostrof dipakai untuk menyingkat kata atau bisa disebut sebagai tanda penyingkat. Tanda ini juga bisa digunakan untuk penghilang bagian tahun.
Contoh :
• Rina melihat Bunga yang terbaring di sampingnya. “Kamu tentunya tahu, ‘kan? Dia mengkhianatiku.” (‘kan = bukan)
• Senja ‘lah berlalu, tapi kau maih di sini (‘lah = telah)
• 11 Januari ’88 (’88 = 1988)
Pembukaan UD ’45 (’45 =1945)
*Dialog Tag*
Banyak yang bingung soal kapan pakai huruf besar dan kapan pakai huruf kecil.
Contoh :
“Lari!” Kau berteriak keras.
“Lari!” jeritmu.
*_Apa sih Dialog Tag?_*
Dialog Tag adalah keterangan kalimat langsung yang tidak bisa berdiri sendiri (berupa frasa) dan menjelaskan kalimat langsung di depannya.
*Cara Menulis Dialog Tag*
1. Tidak pernah ada titik. Hanya koma, tanda seru, tanda tanya, dan tanda tanya-tanda seru dalam kalimat langsungnya.
2. Diikuti huruf kecil setelah tanda kutip tutup.
--> Cara mendeteksi Dialog Tag :
Lepaskan kalimat di belakang kutip. Jika tidak bisa berdiri sendiri artinya masuk Dialog Tag.
--> Contoh :
“Ini Gunpla yang kubeli barusan,” ujar Delan tampak senang.
Bisa diperhatikan, kata ‘ujar’ itu kan enggak bisa berdiri sendiri.
▶ Coba deh kita uji:
Ujar Delan tampak senang.
Hayoloh … apaan yang ‘ujar’? Janggal kan dibacanya?
Berbeda dengan :
“Ini Gunpla yang baru kubeli.” Mata Delan berbinar bahagia.
Mata Delan berbinar bahagia. <– orang bisa ngerti ini ngapain meski tanpa dialog.
Itu yang membedakan antara dialog tag dan bukan.
Jadi kata-kata sejenis, ujar, kata, jerit, maki, dll , masuk dialog tag.
▶ “Pergi kau!” jerit Arlin murka.
▶ “Apa dia yang mencuri?” bisik Rietma.
*Cara Menulis Dialog Tag pada Novel*
Cara menulis dialog tag pada novel lainnya:
*A. Dialog tag di awal dialog*
Contoh :
Hokuto berseru, “Jangan ke sana!”
*B. Dialog tag diantara kalimat langsung*
Contoh :
“Jangan ke sana!” Hokuto berseru. “Kubik dimensi akan menenggelamkanmu!”
Tandai bahwa dialog diucapkan oleh orang yang sama [Hokuto]. Maka dialog tag diakhiri dengan titik, dan kalimat langsung kedua pakai huruf besar.
Nah, kasus khusus jika kalimat masih bersambung.
Contoh :
“Bukankan Rafaelo sudah kubekukan?! Namun,” ujar Hokuto, “kenapa ia masih hidup?”
pada kasus ini, kalimat kedua nyambung sama yang pertama. Itu makanya dialog kedua pake huruf kecil.
~••~
Ragam kata yang termasuk dialog tag, sebenarnya ada banyak. Namun, seringkali penulis hanya menggunakan kata itu-itu saja. Kurang bervariasi. Lebih mudahnya, bisa dibedakan menjadi dua jenis, dialog tag ‘datar’ dan dialog tag yang menunjukkan ‘emosi’. Sebagai contoh:
~*Ragam dialog tag datar*: ucap, tutur, imbuh, timpal, celetuk, anjur, balas, batin, bisik, cakap, canda, sanjung, sapa.
~*Beberapa dialog tag yang menunjukkan emosi*: bentak, cerca, caci, keluh, gertak, hardik, geram, gerutu, teriak, sentak, sindir, tuduh, cela, raung, protes, sorak.
~*Dialog tag selalu diikuti nama subjek atau kata ganti subjek*. Contoh subjek dan kata ganti selain nama orang; -mu, -nya, dia, ia.
~*Kalimat dialog yang diikuti dialog tag tidak boleh diakhiri dengan tanda titik di akhir kalimat.* Contohnya seperti ini :
“Dia sudah pergi,” kata Lisa.
*“Kapan kamu pulang?” tanyaku.*
*“Sini cepat!” panggil Tian.*
Kesimpulan dari contoh di atas, boleh menggunakan tanda apa saja sebelum tanda petik penutup, _kecuali tanda titik_. Lalu diikuti dialog tag.
*Tanda titik hanya digunakan jika setelah dialog langsung adalah kalimat baru.*
Contoh:
*“Kamu nggak perlu ke sini.” Dia berlalu pergi.*
‘Dia berlalu pergi’ adalah kalimat baru. Bukan dialog tag. Bisa dipisahkan dengan dialog langsung. Jadi menggunakan tanda titik di akhir dialog, “Kamu nggak perlu datang ke sini.”
Teknik mendasar ini perlu dipelajari dengan baik, bagi siapa saja yang ingin belajar menulis. Karya tulis apapun itu.
Penggunaan dialog tag, sebenarnya juga dipengaruhi oleh pengambilan sudut pandang atau yang biasa disebut *Person of View/PoV.*
~ Untuk cerita yang menggunakan PoV satu, kata yang bisa digunakan memang terbatas. Karena, tokoh yang berperan sebagai ‘aku’ tidak bisa membaca pikiran orang lain.
~ Keterbatasan penggunaan dialog tag juga berlaku untuk sudut pandang orang kedua. Karena narator hanya berperan sebagai pengamat.
~ Untuk cerita yang menggunakan sudut pandang orang ketiga alias PoV tiga. Penulis bebas menggunakan dialog tag apa saja karena narator serba tahu.
Narator tahu apa isi pikiran setiap tokoh, bagaimana perasaan setiap tokoh. Juga latar belakang yang semuanya diketahui oleh narator. Sudut pandang ini lebih sering digunakan dalam menulis cerita. Lebih luwes dan lebih mudah digunakan. Apalagi untuk yang baru belajar menulis cerpen atau novel.
Jadi, setelah menyimak penjelasan diatas. Aku harap kalian bisa memahami, menyimpulkan dan yang terpenting adalah bisa selalu menerapkan dalam karya yang kalian tulis. Semua butuh proses, bahkan yang instan saja pasti melalu beberapa proses terlebih dahulu. Jadi tidak usah berkecil hati ya teman-teman. Terus berusaha, belajar dan berdoa!
Komentar
Posting Komentar