Materi Mingguan Rengkang Sabawebawepajad ~ Start From Why

  ©Rengkang Sabawebawepajad 

Rengkang Sabawebawepajad Official Group
Jalan simpang swadaya Dusun 2 RT/RW 005/003 Desa Siraman Kecamatan Pekalongan Lamtim Kode 34391 www.rengkangsabawebawepajad.blogspot.com

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•

Start From Why 

Oleh: Risnawati Mardiyyah


Sebelum kita membahas tentang HOW (bagaimana cara menulis?), mari kita memulai terlebih dahulu dengan pertanyaan WHY (mengapa kita menulis?). Pertanyaan HOW itu lebih bersifat teknis dan jawabannya cenderung mudah dipelajari melalui proses latihan, sedangkan pertanyaan WHY itu lebih filosofis dan berhubungan dengan nilai, visi dan misi hidup kita di dunia.

 Pertanyaan “mengapa kita menulis?” sangat penting dan mendasar, karena merupakan fondasi dari pilihan aktivitas yang akan kita lakukan. Tidak jauh berbeda dengan pertanyaan “mengapa saya beragama?”, “mengapa saya menjadi seorang guru?, “mengapa saya menikah dengan dia?”. Jawaban atas pertanyaan tersebut memiliki fungsi sebagai internal driving power (kekuatan yang menggerakkan diri sendiri). Sehingga saat kita menghadapi berbagai kendala dan hambatan yang bersifat eksternal, baik teknis maupun non-teknis, kita akan selalu terdorong untuk menemukan solusinya.

Alasan mengapa kita menulis bisa sangat beragam, misalnya: 

1. Orientasi Material – tujuannya mengejar uang, bisa dari royalti, fee pembicara dan semacamnya. Apalagi jika berhasil menulis novel yang sampai diangkat ke layar lebar.

 2. Orientasi Eksistensial – tujuannya mengejar popularitas dan pengakuan dari masyarakat. 

3. Orientasi Personal – bersifat lebih pribadi dengan tujuan untuk mencurahkan atau mengekspresikan perasaan, pengalaman atau kisah pribadi agar dapat dibaca oleh orang lain. Bagi sebagian orang, kegiatan menulis bertujuan untuk mencapai self-awareness dan self-development.

4. Orientasi Sosial – tujuannya untuk mempengaruhi atau mengubah cara berfikir masyarakat serta membangun peradaban. 

5. Orientasi Spiritual – tujuannya untuk beribadah dan memperoleh pahala dengan mengajak pembaca melakukan perbuatan baik.

Dalam dunia tulis-menulis, tujuan pragmatis seperti untuk mendapatkan materi atau memburu popularitas merupakan motivasi yang sah-sah saja. Namun ada hadis Nabi yang mengatakan “khoirunnas anfa’uhum linnas” (sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk manusia lain). Tidak sedikit penulis yang ingin menjadikan tulisannya bermanfaat untuk orang lain. Ada pula yang menulis dengan tujuan berdakwah atau mengajarkan kebaikan kepada pembacanya.

For Beginners

Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh seseorang untuk menjadi penulis dari nol? Pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab dengan perhitungan matematis, karena setiap orang memiliki karakter dan potensi unik yang beragam. Yang pasti, kekuatan tekat, optimalisasi ikhtiar, konsistensi proses dan keterbukaan fikiran untuk belajar sangat menentukan cepat tidaknya seseorang menjadi penulis handal. Penulis pemula harus menyadari bahwa kemampuan menulis tidak bersifat given yang seolah jatuh dari langit. Ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang penulis yang baik, antara lain: 

1. READ Berapa banyak buku dan bahan bacaan lain yang sudah pernah kita baca? Sebagai informasi, menurut Google's advanced algorithms, jumlah total buku yang terbit ber-ISBN yang ada di seluruh dunia sebanyak 129.864.880 judul. Jumlah tersebut belum termasuk buku-buku tanpa ISBN, Ebook, Jurnal, Majalah dan berbagai artikel yang tersebar di internet. Untuk menjadi seorang penulis yang baik, kita perlu membaca banyak buku baik yang bersifat general (umum) maupun spesifik (misalnya sesuai dengan background akademik atau interest pribadi kita) 

2. DISCUSS Berapa sering kita mendiskusikan dan merenungkan isi buku yang pernah kita baca? Hal ini penting karena ide dan gagasan seringkali muncul saat kita mendialektikakan bahan bacaan yang kita baca dengan bacaan orang lain atau dengan diri kita sendiri. Bila diperlukan, ada baiknya kita memiliki mentor menulis yang tepat. 

3. LOOK AND FEEL Berapa sering kita mengamati dan merasakan apa yang terjadi di lingkungan kehidupan sekitar kita? Baik secara langsung maupun apa yang kita lihat dan baca di media (TV, radio, internet, medsos dll)? 

4. SOCIALIZE Seberapa luas pergaulan dan area sosialisasi kita dengan orang lain? Berapa banyak pengetahuan, pengalaman dan kisah orang lain yang dapat kita serap? 

5. NOTE Seberapa sering dan rutin kita merekam dan mencatat peristiwa, informasi atau pengetahuan baru yang kita dapatkan (baik dalam bentuk tulisan, audio atau video.


-Writing Preparation


Persiapan menulis biasa juga disebut dengan istilah pre-writing. Kegiatan ini sangat penting karena berhubungan dengan proses perencanaan dan pengorganisasian yang mendukung kegiatan menulis. Kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan dalam proses ini antara lain: 

1. Menggali dan menemukan gagasan/ide Pada tahap ini, penulis melakukan kegiatan penggalian gagasan atau ide. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui pengamatan baik terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi, imajinasi, dan kajian pustaka. Untuk mempermudah proses penemuan ide, cara efektif yang dapat digunakan adalah melalui brainstorming. 

2. Menentukan tujuan, genre, dan segmen pembaca Setelah menentukan gagasan/ide, penulis perlu menentukan tujuan menulis, genre yang diikuti serta target segmen pembaca. Sasaran pembaca akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam menentukan warna tulisan. Selain itu, kita harus memastikan bahwa tulisan yang kita hasilkan akan marketable. 

3. Menentukan topik Penentuan topik dilakukan setelah penulis menetapkan untuk apa menulis, genre apa yang dipilih dan siapa sasaran pembacanya. Misalnya, tujuan menulis untuk memberikan informasi yang benar tentang kesehatan. Genrenya tulisan populer. Jika sasarannya adalah orang tua (manula), maka penulis bisa menentukan tulisan misalnya dengan topik “Hidup sehat di usia senja”. 

4. Membuat outline Outline merupakan bentuk kerangka tulisan. Kerangka tersebut menunjukkan gambaran materi yang akan ditulis. Menulis outline cukup dengan garis besarnya saja. Karakteristik outline yang baik memiliki kesederajatan yang logis, kesetaraan struktur, kepaduan, dan penekanan. Untuk mempermudah memetakan gagasan dan alur tulisan, penulis bisa juga membuat ideas web dan sequence chain (terutama untuk novel) seseperti gambar dibawah ini.

5. Mengumpulkan bahan materi/buku. Penulis wajib membaca banyak buku dan sumber bacaan lain untuk memperkaya perspektif dan referensi. Selain itu agar semakin banyak ide atau gagasan yang dapat dikembangkan. Apabila sudah menemukan topik, maka bahan bacaan yang dikumpulkan sesuai dengan topik yang sudah ditentukan.


- How To Write 


Bagaimana cara kita menulis? Jawabannya: Just do it! Tulis saja dulu. Banyak penulis hebat yang tidak pernah belajar tentang teori menulis, namun mereka lebih banyak belajar dari tulisan para penulis masyhur. Memang secara teori ada beberapa kaidah dan aturan kepenulisan yang baik dan benar. Namun, jika kita terbebani oleh aturan-aturan baku kepenulisan, boleh jadi kita menjadi malas dan takut untuk menulis. So write first, edit and revise later! Jika kita sudah membaca berbagai jenis buku, maka dengan sendirinya kita memiliki feeling dan sense terhadap kualitas tulisan. Kita dapat menilai seperti apa tulisan yang baik dan yang kurang baik, seperti apa rangkaian kata-kata yang enak dibaca dan yang kurang menarik dibaca, gaya bahasa dan cara betutur bagaimana yang membuat kita terus stay membaca meskipun halamannya berjumlah ratusan? Dengan belajar dari pengalaman membaca buku, kita dapat mengatahui bagaimana seharusnya kita menulis.

Dalam proses menulis, ada baiknya kita memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 

TIME TARGET Sebaiknya kita menentukan target berapa lama kita akan menyelesaikan buku, misalnya 4 bulan. Bagaimanapun caranya, tulisan kita harus selesai dalam 4 bulan. Kalaupun ada toleransi, sediakan waktu maksimal 2 bulan untuk perpanjangan. Kalau bisa jangan lebih dari itu, karena semakin lama menunda, berdasarkan pengalaman banyak orang, karya tersebut tidak akan selesai hingga bertahun-tahun lamanya. 


DISCIPLINE Menulis di tengah-tengah kesibukan bekerja memang tidak mudah. Untuk itu, kita harus mampu mendisiplinkan diri sendiri. Jika kita seorang guru misalnya yang harus bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore, kita harus mengelola waktu untuk menulis di malam hari, misalnya 2 jam per hari. Di hari libur, kita memiliki waktu lebih panjang, misalnya 4-7 jam. Jika rata-rata kita menulis 20 jam per minggu, dengan asumsi 1 halaman membutuhkan waktu 30 menit, maka dalam seminggu kita dapat menghasilkan 40 halaman. Itu berarti dalam 1 bulan kita berpotensi untuk menulis 160 halaman. Namun dalam prakteknya mungkin tidak akan semulus itu. Untuk itulah sikap disiplin diperlukan.


COMFORTABILITY Carilah tempat khusus (kalau bisa kamar atau ruangan khusus) yang nyaman dan kondusif untuk menulis sehingga tidak terganggu oleh atmosfer eksternal. Menulis di tempat terbuka atau di ruang publik tidak disarankan kecuali bagi orang-orang yang memang merasa comfortable menulis di tempat terbuka. Lebih baik fokus di ruang tertutup.


FACILITIES Pastikan supporting facilities menulis dapat berfungsi dengan baik, terutama komputer atau laptop, koneksi internet dan buku-buku referensi. Dalam beberapa kasus, banyak penulis yang mengambil referensi sepenuhnya dari ebook atau internet, sehingga tidak perlu lagi meminjam buku di perpustakaan atau membelinya. Namun hal ini disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi. 

MOOD BOOSTER Jika dibutuhkan, sediakan hal-hal yang dapat menjadi mood booster, misalnya makanan, minuman, musik, video motivasi, dan semacamnya. Bila perlu menemui orang yang dapat memberikan energi positif untuk menulis.


Sumber: Suwatno. From Zero To Writer Oleh Guru Besar Komunikasi Organisasi UPI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

🔴 Arti Tulisan "Rengkang Sabawebawepajad"