Materi Mingguan Rengkang Sabawebawepajad ~ Tips Menulis Cerita Religi

 ©Rengkang Sabawebawepajad 

Rengkang Sabawebawepajad Official Group
Jalan simpang swadaya Dusun 2 RT/RW 005/003 Desa Siraman Kecamatan Pekalongan Lamtim Kode 34391 www.rengkangsabawebawepajad.blogspot.com

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

_(Silakan menjawab dalam hati bagi muslim)_


Baiklah, langsung saja kita masuk ke materi dengan tema *Menulis Cerita Religi*


_Cerita religi itu apa, kak?_


Cerita religi itu adalah cerita yang memiliki unsur dakwah secara halus lewat rangkaian kata-kata. Harapan akhirnya, tentu berharap pembaca maupun penulisnya menjadi pribadi yang semakin baik setelah membaca karya tersebut, dan bisa membagikan kebaikan tersebut kepada orang-orang dan lingkungan sekitarnya.


Saya ambil satu hadist ya, yang ada di dalam buku Hadist Budi Luhur yang saya punya, bagian 8 halaman 12.


*"Barang siapa yang menunjukkan orang lain supaya berbuat baik, maka ia memperoleh pahala sama dengan pahala yang mengerjakannya."*

*(HR.Muslim)*


Tapi bukan berarti kita tidak ada usaha untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, ya.๐Ÿ˜‰


Cerita religi, bisa dikaitkan dengan beberapa humor atau candaan *yang masih terbilang cukup wajar*, gunanya agar pembaca tidak terlalu bosan dengan alur cerita yang terkesan monoton atau datar (memiliki alur yang lurus)


Nah, buat yang suka mengeluarkan jurus bucinnya, kalian boleh sisipkan dalam ceritanya, tetapi harus pandai-pandai merangkai kata, agar cerita tetaplah menyambung saat dibaca.๐Ÿง๐Ÿ“–


*Perbedaan genre religi dengan genre yang lain :*


✍๐Ÿป *Fantasi :*

Biasanya cerita fantasi itu dikaitkan dengan makhluk immortal, hewan mitologi, dan semacamnya. Dan untuk genre ini sangat jarang bahkan mungkin tidak ada yang mengaitkannya dengan genre religi, karena biasanya, alur genre fantasi itu tidak terlalu mementingkan agama.

✍๐Ÿป *Horor :*

Religi juga bisa sekali disambungkan dengan cerita genre horor, jadi terkesan lebih menjiwai para pembaca, dan genre itulah yang paling saya suka.

✍๐Ÿป *Humor :*

Seperti yang tadi saya katakan, cerita religi boleh-boleh saja jika ditambahkan beberapa humor, asalkan masih dalam batas wajar, jangan terlalu menyisipkan kata-kata kasar atau berlebihan dalam penempatannya.

✍๐Ÿป *Teenfiction :*

Cerita remaja itu ada banyak macamnya, ada yang dikaitkan dengan religi, ada pula yang tidak terlalu mementingkan masalah agama.


_Mungkin masih ada banyak genre yang lain yang tidak bisa saya sebutkan, karena materi kita hanya untuk genre religi._


Genre religi sendiri, lebih menjiwai jika ada berbagai konflik yang sulit terpecahkan oleh pembaca. Buatlah pembaca seakan-akan merasakan dalam dunia itu, rasa ketakutan, penasaran, kesedihan, greget, kesal, bahagia dan sebagainya.


_Jangan berpikir bahwa pembaca akan selalu setia pada cerita kita, ada masanya pembaca mulai bosan dengan alur cerita yang kita buat._


*Perlu diketahui, ada beberapa hal yang membuat pembaca malas atau segan untuk melanjutkan membaca cerita :*


*1. Tokoh utama yang terlalu sempurna*๐Ÿฅบ

Pernahkah, kalian membaca novel, atau melihat acara televisi, yang pada awalnya begitu kagum dengan sosok pemeran utama, lalu kemudian mulai merasa jengkel ketika mengetahui bahwa pemeran utama itu ternyata sulit di percaya jika ada di dunia nyata. Misalnya saja, pemeran utama itu terlalu baik, hingga ia tidak pernah marah, sekalipun berkali-kali disakiti oleh tokoh antagonisnya.


*2. Alur cerita yang tidak masuk akal*๐Ÿค”

Penulis, terkadang merasa bingung di pertengahan jalan untuk melanjutkan alur ceritanya. Nah, hal inilah yang membuat, beberapa ide terkadang muncul dan membuat si penulis berpikir, *"Ah, sepertinya akan seru, jika ditambahkan kisah-kisah hebat. Apakah, aku harus membuat si pemeran utama itu mempunyai kekuatan, ya?"*

Nah, kan, semakin tidak masuk akal, jika penulis menambahkan alur cerita yang sebelumnya tidak dia buat, tetapi justru dia sisipkan pada pertengahan alur cerita tersebut. Penulis mungkin bisa-bisa saja menyambungi, tetapi kembali lagi, yang membaca dan akan mengapresiasi atau mengkrisar karya kita adalah pembaca.


*3. Alur yang mudah ditebak*๐Ÿคจ

Untuk penulis, saran saya, jangan membuat alur cerita yang mudah ditebak oleh pembaca, karena apa? pembaca akan mulai bosan, dan juga sudah menebak terlebih dahulu tentang ending dari sebuah cerita tersebut.

Jadikan pelajaran, jika mau memiliki ending yang bahagia, maka rasakan kebahagiaan itu, buatlah agar lebih greget. Jika mau memiliki ending yang sedih, seperti misalnya, pemeran utama itu meninggal, maka buatlah hingga hati ikut merasakan kesedihan itu. Kalau perlu, sampai kita yang menulisnyapun ikut menangis ketika menuliskan bagian kesedihan itu.


Menulis cerita religi, sebenarnya susah-susah gampang.

Agar cerita mudah diketahui bahwa bergenre religi, maka perlu menambahkan beberapa ceramah atau kajian singkat, atau mungkin hadist-hadist, yang sesuai.

Perlu diketahui, jangan sembarangan menyisipkan hadist dalam cerita kita, jangan karena kita ingin membuat cerita religi dan ingin menyisipkan hadist atau ayat Al Qur'an, lalu kita tidak kembali mengecek tentang apa yang kita tulis, biasanya penulis kadang mencari sumber-sumber itu dari google, youtube, majalah, koran, televisi, dan sejenisnya.

Sebenarnya tidak ada yang salah, karena saya juga terkadang mencari sumber dari sana, tapi kita harus teliti dan kembali mengecek, apakah hadist yang kita tulis itu benar? apakah ayat Al Qur'an yang kita tulis itu tidak ada kesalahan kata atau huruf sama sekali? hadist yang kita tulis sebenarnya ada di buku apa? halaman berapa? apakah yakin, itu sudah benar?๐Ÿค”


*Saya mau memberikan tips menulis cerita religi, disimak baik-baik, ya.*


1. Berpikir terlebih dahulu, tentang alur cerita yang akan kita buat, dan berpikir untuk menentukan ending, sebelum memulai menulis cerita.


2. Mencari judul yang sesuai dengan cerita yang akan kita buat. Jika penulis ingin memakai judul yang dikaitkan dengan bahasa Arab, contohnya : *Baiti Jannati*, maka terlebih dahulu carilah arti dari kata tersebut.


3. Mulailah membuat sinopsis terlebih dahulu, memang mungkin bagian itu sedikit sulit, karena pembaca akan memulai membaca dengan melihat sinopsisnya terlebih dahulu.


4. Setelahnya, kalian bisa membuat prolog atau bisa langsung memasuki chapter awal. Ingat satu hal, kalau mau membuat cerita religi, maka carilah informasi seluas-luasnya, dari buku pelajaran agama di sekolah, buku mengaji, buku kitab, buku hadist, dan sebagainya, agar tidak menyesatkan pembaca yang membacanya, karena ini berpengaruh kepada agama seseorang.


5. Sering-seringlah mengikuti seminar, agar wawasan dan pengetahuan kalian tentang kepenulisan lebih luas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐Ÿ”ด Arti Tulisan "Rengkang Sabawebawepajad"